merupakan tradisi yang masih ter jaga hingga saat ini. Menjelang Ramadhan dan Lebaran, biasanya anakanak mengunjungi orangtua yang telah dimakamkan. Mereka duduk dipinggir pu sara guna memohonkan ampunan orang terkasih yang kini telah berada di barzah.
Sebagian orang memandang tradisi ini tidak perlu dilakukan, menurut pendapat mereka, mendoakan jenazah bisa dilakukan dimana saja, tidak harus ziarah kubur. Ada lagi yang memandang tradisi ziarah merupakan perilaku sia-sia, karena mendoakan orangtua seharusnya dilakukan setiap hari tanpa perlu mengunjungi makamnya. Toh mereka yang sudah meninggal tidak akan tahu bahwa anak cucu mereka mengunjunginya di makam. Benarkah demikian?
Disamping untuk mengingat akhirat, ziarah kubur, terutama ziarah ke makam orangtua dan mendoakannya, memiliki nilai dalam Islam. Seperti hadis Rasullah SAW : "Barang siapa ziarah ke makam orang tuanya setiap hari Jum’at, Allah pasti akan mengampuni dosa-dosanya dan mencatatnya sebagai bukti baktinya kepada orang tua." (HR Abu Hurairah Ra)
Sedangkan anggapan bahwa ziarah ku bur tidak bermanfaat bagi jenazah, dija wab melalui hadis Rasullah SAW : "Tidak seorangpun yang mengunjungi kuburan saudaranya dan duduk kepadanya (untuk mendoakannya) kecuali dia mera sa bahagia dan menemaninya hingga dia berdiri meninggalkan kuburan itu." (HR. Ibnu Abi ad-Dunya dari Aisyah Ra.)
Terdapat manfaat timbal balik dalam me lakukan ziarah makam orang tua. Disatu sisi, orang tua yang telah tiada bisa merasakan kebahagiaan dengan hadirnya anak-anak tercinta di makamnya, disisi lain, anak-anak dapat meneruskan baktinya kepada orang tua hanya dengan melakukan ziarah kubur dan mendoakannya.







0 komentar:
Posting Komentar